Populerkan Sarung Nasional Ditengah Sorotan KKN Kementerian Yang Dinahkodai Hanif

Menaker Sarung Its My Denim (9)
Progresnews.Info-Suasana kantor Kementerian Ketenagakerjaan pada Jum’at (1/3/2091) pagi, tak seperti biasanya. Perayaan Hari Sarung Nasional yang bertema ” Sarung is My New Denim” berlangsung dengan meriah.
Menaker M Hanif Dhakiri, pejabat eselon I, II dan III Kemnaker secara bergiliran berlenggak-lenggok di halaman kantor Kemnaker dengan mengenakan kain sarung/kain khas Nusantara di atas karpet merah yang digelar
Disaksikan ratusan pegawai Kemnaker yang juga mengenakan kain sarung dan berdiri di sisi karpet merah, Hanif Dhakiri, Sekjen Khairul Anwar, Dirjen PHI Jamsos Haiyani Rumondang, Dirjen Pengawasan K3 Sugeng Priyanto, Dirjen Binalattas Bambang Satrio Lelono secara bergiliran bagaikan peragawan/peragawati bergaya berjalan di atas catwalk.
 Dalam sambutannya, Menteri Hanif  mengatakan pihaknya ingin mempopulerkan kain sarung sebagai salah satu busana nasional Indonesia.  Semakin populer dan dikenalnya sarung serta diminatinya sarung oleh generasi milenial, maka akan menimbulkan dampak ekonomi dan lapangan kerja akan luar biasa.
“Hari ini kita sarungan bersama dalam acara bertema Sarung is My New Denim. Selama ini Denim identik dengan jeans. Hari ini kita berbagai macam ragam dari jenis kain. Indonesia kaya betul dengan berbagai macam kain sarung, berbagai macem jenis dan bentuk. Ini jadi potensi ekonomi dan budaya, ”  ujarnya.
Hanif menambahkan sejarah sarung sangat panjang. Tapi sekilas, sarung sejak dulu digunakan oleh kaum nasionalis dan santri. Tapi lambat-laun, hanya kaum santri saja yang mengenakan sarung dan tiba-tiba sarung dianggap kampungan atau Ndeso.
“Sarungan bukan ndeso atau kampungan. Sarungan itu keren. Kita harus keluarkan sarung dari citra negatif dan dianggap hanya mewakili kelompok tertentu. Sarungan  ini untuk semua orang karena sarungan  bagian dari budaya nasional, ” ujarnya.
Menaker Hanif juga mengajak pegawai Kemnaker untuk mengenakan sarung setiap hari Jum’at. “Monggo di Kemnaker, tiap hari Jum’at pakai sarung, itu tak masalah. Saya tidak akan mewajibkan untuk bersarung tapi kalau hari Jum’at pakai sarung, kita kasih jempol, ” kata Hanif seraya memperagakan jari jempolnya ke hadapan pegawai Kemnaker dan disambut applaus.
Hanif menjelaskan sarung bisa digunakan untuk berbagai macam jenis aktivitas. Misalnya untuk ibadah sholat dan aktivitas lain. “Tapi intinya, kita ingin sarung ini kembali populer menjadi budaya nasional dan membantu penciptaan lapangan kerja di bidang produksi sarung. Mari kita harus bangga dengan jatidiri Indonesia, ” katanya.

Sebagaimana dilansir Akurat.Co mantan Atase Ketenagakerjaan (Atnaker) KBRI Singapura Agus Ramdhany Machjumi ditetapkan sebagai tersangka suap, gratifikasi, dan pencucian uang oleh Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri.

Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan ARM ditetapkan sebagai tersangka sejak 21 Februari 2019 karena diduga telah menerima suap senilai SGD300.000.

“Tersangka atas nama ARM, selaku mantan Atase Tenaga Kerja Migran Indonesia di KBRI di Singapura. Yang bersangkutan diduga menerima suap dan gratifikasi senilai 300.000 dolar Singapura,” Dedi Prasetyo, di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (27/2/2019).

Dedi mengatakan, ARM diduga menerima gratifikasi atau Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) terkait skema asuransi TKI di Singapura selama ia menjabat sebagai Atase TKI pada 2018 kemarin.

“Ini sangat terkait masalah skema asuransi perlindungan pekerja migran Indonesia di Singapura selama 2018. Yang bersangkutan saat ini bukan Atase lagi, sudah dialih tugas sejak terindikasi korupsi,” ungkapnya.

Pihaknya akan berkoordinasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan terkait pembuktian tindak pidanan pencucian uang.

“Penyidik akan berkoordinasi dengan PPATK terkait pembuktian tindak pidana pencucian uangnya, kemudian juga memanggil beberapa saksi dari staf KBRI, akan menyita beberapa dokumen terkait perkara tersebut dan berkoordinasi dengan otoritas Singapura untuk memeriksa beberapa saksi warga negara Singapura dalam rangka penguatan pemberkasan,” terang Dedi.

Meski ditetapkan sebagai tersangka, namun ARM tidak ditahan. “Sementara belum ditahan,” katanya.

Atas perbuatannya, Agus dijerat Pasal 5 ayat 2 atau Pasal 11,12 a, 12 b UU 31 tahun 1999 sebagaimana diubah UU 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan Pasal 3 UU Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) juncto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP. (Red)

 

Silahkan di ShareTweet about this on TwitterShare on Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *