Hingga November 2017, Kemnaker Telah Melatih 600 Barista

IMG_20171103_094642

Progresnews.Info—Dalam rangka membuka lapangan kerja baru, Kementrian Ketenagakerjaan mengadakan pelatihan menjadi barista. Pelatihan dipusatkan di Balai Besar Pengembangan Pasar Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja, Kementrian Ketenagakerjaan, Lembang, Jawa Barat.

Kepala Balai Besar Pengembangan Pasar Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja, Kementrian Ketenagakerjaan, Nana Mulyana menjelaskan, pelatihan barista menjadi salah satu pilihan pelatihan, karena profesi ini masih sangat dibutuhkan. “Hal ini seiring mewabahnya kafe dan kedai kopi di Indonesia,” kata Nana, Jumat, 3 November 2017.

“Mewabahnya kafe memberi peluang kerja bagi barista. Sebuah profesi baru yang cukup menjanjikan,” tambahnya.

Tak hanya itu, lanjutnya, dengan munculnya barista-barista baru yang kemungkinan besar tertarik membuka kafe kopi, diharapkan akan memberi efek baik bagi terserapnya pasar kerja baru. Setidaknya, jika satu barista mendirikan kafe, maka akan menarik dua pekerja baru untuk mengelolanya.

Tahun ini, Balai Besar Pengembangan Pasar Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja membuka 25 angkatan pelatihan barista. Tiap angkatan terdiri 20 peserta. Dengan demikian, tahun ini terdapat 600 peserta yang berasal dari hampir seluruh daerah di Indonesia. November ini, merupakan angkatan pelatihan terakhir yakni angkatan ke 25.
Sebelumnya, tahun lalu, program ini telah diujicobakan dengan melibatkan 100 peserta.

Pelatihan selama lima hari ini menghadirkan instruktur yang berasal dari barista profesional, seperti beberapa barista dari East Indische Koffie Jakarta. Materi pelatihan 70 persen diantaranya adalah praktik.

Nana menambahkan, saat ini pihaknya juga tengah menyiapkan pelatihan untuk para roaster kopi dan owner kafe atau kedai kopi. Roaster dilatih cara memanggang biji kopi yang berkualitas, sedangkan para pemilik kafe dilatih manajemen bisnis yang handal.

’60 di Batam dan 40 ada di Jogja di UIN untuk anggota yang 100 tahun ini akan mendirikan LSB, dan kurang satu langkah lagi akan menjadi asesor,” tegasnya di ruang Bimbingan Barista.

” kedepanya diharapkan Lembaga Sertifikasi Barista sudah dapat diwujudkan, harapan Tahun 2018 sudah dapat terwujud, “ujar Nana.

Setelah melalui beberapa pelatihan dalam setiap tingkatan, pihaknya akan mengambil sebanyak 60 peserta terbaik dari 700 peserta, untuk diikutkan uji kompetensi Barista, karena sementara ini dari beberapa peserta memang sudah mengikuti pelatihan Barista tapi belum tercatat sebagai Barista jadi harus dilakukannya uji kompetensi.

“Nanti dari beberapa Barista untuk tahun depan akan diletakkan di kantong-kantong TKI, seperti Singapur, Taiwan, Hongkong dan Lain-lain,” tambahnya

Sementara angkatan ke 25 tahun ini merupakan angkatan yang paling luar biasa, karena yang mengikuti pelatihan kali ini banyak dari pemain-pemain kopi, jadi kami harap kopi kita bisa dinikmati oleh bangsa kita sebelum di ekspor ke luar negeri.

“Pelatihan angkatan 25 saya katakan angkatan yang luar biasa, bukan angkatan sebelumnya pas tidak luar biasa tapi karena angkatan tahun ini banyak pemain kopinya,” tandas Nana.

Salah satu instruktur pelatihan, Agung menjelaskan, materi pelatihan terdiri dari coffee knowledge, cupping, manual brew, espresso based, cappuccino serta latte art. “pelatikan diselenggarakan lima hari dengan materi pelatihan dominan praktik, maka setelah ikut pelatihan, 90 persen peserta bisa menjadi barista. Selanjutnya tinggal memperkaya jam terbang,” ujarnya.

Tiap pelatihan selalu ditutup dengan lomba meracik dan menyajikan kopi yang diikuti oleh seluruh peserta. “90 persen peserta bisa meracik, menyajikan kopi dan mempresentasikannya dengan baik,” tambah Agung.

Agustinus salah seorang peserta asal Sumatera Utara menuturkan bahwa baru kali ini mendapatkan pelatikan yang terstruktur dengan baik dan jangka waktu pelatihan yang pas, serta mendapat modul dan silabus yang up to date. “Saya punya dasar barista, namun, dengan mengikuti pelatihan banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan, apalagi praktik dengan alat yang mumpuni di BBPPK dan PKK Kemnaker ini,” curhat dia.

Mahfum, Agustinus dan kawannya mengalami hal yang buruk , ketika mereka mengikuti pelatihan yang dibuat oleh salah satu lembaga. Bayangkan acara pelatihan cuma sehari , langsung mendapat sertifikat. Sementara full terori sementera praktinya mana , kok bisa begini ?.

Atas dasar pengalaman yang buruk tersebut membuat Agus dan beberapa kawanya mencari informasi dan mereka menemukan tempat pelatihan yang tepat yang dimiliki Kemnaker. Agustinus juga salah satu yang terlibat dalam acara Sumatera Coffe Expo yang akan digelar pada 11-12 November 2017.(Teddy Unggik)

Silahkan di ShareTweet about this on TwitterShare on Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *