Sugiarto Sumas : Negara Kaya, Rakyat Miskin

DR.Sugiarto Sumas

“Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan ditemui, ikan dan udang menghampiri dirimu.” Begitulah sepotong syair Koes Plus untuk menggambarkan Indonesia kaya. Tetapi mengapa masih banyak penduduk miskin?

Komoditas hayati Indonesia memang menonjol. Bahkan beberapa di antaranya terbaik di dunia seperti teh, kayu manis, kopi, sirsak, jambu merah, dan manggis. Kemudian, juga minyak sawit dan kulit domba Priangan. Komoditas terbanyak di dunia adalah padi (nomor 3), jagung (1), kedelai (6), karet (2), lada (2), cengkih (1), perikanan tangkap (3), perikanan budi daya (4), serta keanekaragaman hayati (1).

Sumber daya alam nonhayati tidak kalah fantastikmya. Garis pantai terpanjang nomor 2 dunia, cadangan geothermal (1), cadangan gas alam (1). Demikian juga hutan tropis terbesar, hutan mangrove terluas, uranium dan deutirium terbesar. Cadangan migas terbesar, eksporter batu bara terbesar, penghasil timah terbesar, produsen nikel nomor 4, serta produsen tembaga nomor 2 dunia.

Populasi nomor 4 dunia, dengan penduduk usia produktif (20-55 tahun) tahun 2000 sebesar 99 juta (48%). Pada tanun 2020 ini diproyeksi menjadi 132 juta (52%). Mereka menjadi anugerah bila bekerja. Sebaliknya, akan menjadi bencana, andai banyak menganggur. Kelas menengah tahun 2010 sebanyak 45 juta dan diproyeksi tahun 2020 menjadi 85 juta. Demikian juga pada tahun 2030 berjumlah 135 juta. Ini hanya bisa dicapai bila ekonomi tumbuh rata-rata 5-6% tiap tahun. Angkanya bisa jadi 170 juta apabila tumbuh rata-rata 7%.

Sayang kualitasnya memprihatinkan. Pada 2014 rata-rata lama sekolah pria 7 tahun. Ini jauh tertinggal dari Singapura (10,1 tahun), Malaysia (9,4), dan Jepang (11,3). Ini hanya lebih baik dari India 3,6 tahun. Yang perempuan tak jauh beda, 8,2 tahun. Sedang Singapura 10,9 tahun, Malaysia (10,1) dan Jepang (11,7).

Pendapatan mencapai puncaknya pada tahun 2012 sebesar 3,701 dollar AS per kapita. Singapura adalah 56,285 dollar AS dan Malaysia 11,307. Sedang Jepang 36,194 Korea Selatan 27,970. Indonesia hanya di atas India 1,582 dollar AS. Karena rata-rata lama sekolah dan pendapatan per kapita merupakan komponen perhitungan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), maka IPM Indonesia juga rendah. IPM pria 0,655 dan wanita 0,706. Ini jauh lebih rendah dari Singapura, Malaysia, Jepang, dan Korea Selatan. Partisipasi perempuan Indonesia di pasar kerja sangat rendah, hanya 48,87% yang tergolong Angkatan Kerja (AK). Sisanya, 51,13% kelompok Bukan Angkatan Kerja (BAK).

Kondisi ini menyebabkan tingkat kesempatan kerja perempuan 94%. Adapun partisipasi laki-laki di pasar kerja sangat tinggi, mencapai 82,71% (AK) dan hanya 17,29 % (BAK). Artinya, kebutuhan hidup perempuan masih ditopang prai.

Banyak sekali penduduk usia muda (15-24 tahun) yang terjun ke pasar kerja. Pada tahun 2013 sebanyak 16,39 juta. Berikutnya 15,66 juta (2014), 15,75 juta (2015). Di pihak lain, banyak pula penganggur usia muda. Tahun 2013 sebanyak 4,51 juta dan tahun 2015 ada 4,6 juta. Mereka seharusnya masih bersekolah/kuliah, sehingga masih tergolong bukan angkatan kerja. Mereka sesungguhnya masih memerlukan peningkatan kualitas dan produktivitas melalui pendidikan. Tetapi, ketika terlalu dini (usia sangat muda) masuk ke pasar kerja, maka mereka langsung terjerumus dalam kemiskinan struktural.

Kemiskinan struktural adalah kondisi di mana golongan miskin tidak berdaya mengubah nasib dan tidak mampu memperbaiki hidup. Kemiskinan struktural biasanya terjadi di dalam suatu masyarakat dengan perbedaan tajam antara kaum melarat dan kaya. Kemiskinan struktural meningkat tergambar dari rasio gini yang meningkat pesat dari 0,36 pada tahun 2007 menjadi 0,41 pada tahun 2015.

Solusi

Sekalipun rasio gini bertambah buruk selama 9 tahun terakhir, kemiskinan relatif maupun kemiskinan absolut menurun. Artinya, memang benar persentase dan jumlah penduduk miskin berkurang. Namun demikian, penduduk kaya juga meningkat sangat pesat. Ini menjadikan jurang kaya-miskin melebar juga. Kondisi ini tentunya bisa menimbulkan kecemburuan dan kerawanan sosial.

Pemerintah harus fokus mengurangi jurang ini dengan pemerataan pembangunan antar sektor, antarwilayah dan daerah dengan melibatkan sebesar-besarnya angkatan kerja. Dengan demikian menurunkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dari 7,4% pada tahun 2010 menjadi 4-5% tahun 2019.

TPT dari sisi AK yang sudah bekerja harus dicegah pemutusan hubungan kerja (PHK) agar tidak menambah pengangguran. Perusahaan yang mempekerjakan AK harus mampu bersaing dengan perusahaan dalam dan luar negeri. Lingkungan fisik dan sosial perusahaan harus mampu mendukung upaya mempertahankan hingga meningkatkan daya saing produk perusahaan.

Untuk itu, pemerintah harus meningkatkan infrastruktur pelayanan public dengan membangun sarana dan prasarananya. Perizinan dipersingkat dan korupsi diberantas. Hubungan industrial harus dibina, terutama melalui peningkatan peran bipartit dalam penetapan upah dan skala upah yang dapat diterima kedua belah pihak. Impor barang dan jasa dikendalikan agar tidak memperlemah daya saing produk dalam negeri. Pemerintah memperluas pasar barang dan jasa produk dalam negeri hingga ke mancanegara.

Pengendalian TPT dari sisi AK yang belum bekerja/lulusan baru pendidikan segala tingkatan. Ini harus diciptakan kesempatan kerja baru untuk mengurangi pengangguran. Untuk itu, perlu meningkatkan pembangunan industri baru melalui penanaman modal dalam dan luar negeri didukung bunga bank rendah.

Peningkatan kualitas lulusan baru pendidikan berbagai tingkatan agar “link and match” dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia. Peningkatan rata-rata lama sekolah dari kelas 1 SMP menjadi lebih tinggi lagi. Dalam jangka pendek meningkatkan pelatihan kerja dan kewirausahaan lewat revitalisasi Balai Latihan Kerja. Pemerintah meningkatkan pasar tenaga kerja luar negeri didukung informasi pasar kerja yang akurat. Berbagai upaya ini diharapkan mampu mengubah keadaan secara sistematis menjadi lebih baik. (Dr. Ir. Sugiarto Sumas, MT Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia)

 

Silahkan di ShareTweet about this on TwitterShare on Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *