Asian Monetary Fund (AMF) Lebih Dibutuhkan Daripada IMF

sambangi-indonesia-bos-imf-jadi-dosen-sehari-di-ui-RGP

Progresnews.Info-Kedatangan Christine Lagarde, Managing Director International Monetary Fund (IMF) ke Indonesia di tengah terjadinya fluktuasi rupiah membuka memori lama. IMF kerap dinilai sebagai institusi yang menjerumuskan Indonesia ke jurang atau dalam istilah Joseph Stiglitz, pemenang Nobel Ekonomi 2001, “rumah sakit yang membuat makin sekarat” (hospital that makes you sicker).

Sebuah momen terekam kuat dalam sejarah adalah ketika Michael Camdessus (direktur IMF saat itu) bersedekap mengawasi Presiden Soeharto membungkuk menandatangani Letter of Intent (LoI) awal tahun 1998. Mengikuti saran super konservatif IMF, bukannya membaik, ekonomi Indonesia justru kolaps diikuti jatuhnya Presiden Soeharto dari kursi presiden.

Kegagalan IMF menangani krisis di Asia melahirkan Perjanjian Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM) yang dirintis tahun 2000. CMIM terdiri dari negara ASEAN plus China, Jepang dan Korea Selatan (ASEAN+3).

CMIM bertujuan memberikan fasilitas bantuan keuangan negara-negara anggotanya bila terjadi ancaman krisis. CMIM menjadi semacam jangkar besar moneter regional untuk mencegah gelombang krisis moneter kembali menghantam Asia.

CMIM ini kemudian sering disebut sebagai Asian Monetary Fund (AMF). Hingga kini total dana yang dikumpulkan CMIM mencapai 240 milyar dollar atau setara 3.330 triliun rupiah.

“Daripada bertemu dengan Direktur IMF, menyelenggarakan pertemuan AMF lebih berguna dalam situasi saat ini. Intervensi individual Bank Indonesia mempertahankan Rupiah dengan menguras cadangan devisa adalah pertempuran yang hampir mustahil dimenangkan.Fluktuasi mata uang di Asia telah menjadi incaran para big boys dan hedge funds terutama pada mata uang yang terlihat lemah.Pertemuan AMF dengan back up dana siaga jumbo akan menggetarkan para spekulan, salah posisi dan kalah modal justru akan membuat mereka rugi besar. Ini akan membuat mereka gentar untuk melakukan spekulasi di Asia,” demikian disampaikan Setyo Budiantoro, Direktur Eksekutif Perkumpulan Prakarsa kepada Progresnews.Info,kamis(04/9)

“Untuk memperkuat soft power dalam konstelasi geopolitik ekonomi dunia, Indonesia perlu menunjukkan kepemimpinan di kawasan ASEAN dengan memanfaatkan hubungan baik dengan China, Jepang dan Korea Selatan.

Pertemuan dengan China sangat penting untuk membangun komitmen agar tidak melakukan devaluasi Yuan lebih lanjut yang beresiko menyeret mata uang regional dan memperburuk currency war. Pertemuan AMF juga sangat strategis untuk mengantisipasi dampak kenaikan suku bunga AS yang akan dilakukan the Fed”, papar Setyo.

“Upaya mencegah terjadinya krisis moneter berulang juga menjadi pertaruhan martabat bagi negara-negara Asia. Apakah benar Abad Asia telah dimulai seperti sering didengungkan selama ini? Atau sebenarnya Asia juga berpenyakitan (the sick Asia) seperti halnya Eropa? Inilah tantangan yang harus dijawab dan Indonesia harus mengambil inisiatif.” (TU)

Silahkan di ShareTweet about this on TwitterShare on Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *